Andai Waktu Dapat Kembali (Cerpen)
Ya. Cerpen ini memang salah satu dari sekian banyak tugas yang harus dikerjakan-_- Entahlah, ini absurd story... selamat membaca:)
“Mungkinkah,
waktu bisa berputar kembali, kembali ke saat kita pertama bertemu, saat tiada
rasa di hati ini, saat tiada cinta, tiada benci, tiada apapun, diantara kita?”
Pagi
itu, aku tengah mempersiapkan hari terakhir ujian semester di sekolah. Ketika
bel berbunyi, aku mulai mengerjakannya. Mengerjakan soal, istirahat, mengerjakan
soal lagi, lalu pulang. Saat aku sedang menunggu ibu menjemputku, tiba-tiba Farel,
teman dekatku datang menghampiriku bersama temannya. “Ngapain lo disini?”,
tanya Farel. “Hah? Gue lagi nunggu ibu gue nih. Lo gak balik, Rel?” jawabku.
Lalu ia menjawab, “Gak tau nih, Vino lama.”. Vino? Siapa dia? Sepertinya aku
baru pertama kali melihat dia. Ternyata dia anak kelas sebelah. Dan kami
bertiga berbincang-bincang sambil menunggu ibuku datang. Vino anaknya asyik
juga, dia mudah bergaul dan pintar.
Tiga
bulan sudah kami berteman. Tak terasa yang tadinya aku tidak kenal dia,
sekarang menjadi lebih akrab. Layaknya sebuah persahabatan. Kami suka menghabiskan
waktu bersama, bersama sahabat yang lain juga pastinya. Seperti jogging,
belajar, sampai jalan-jalan tanpa tujuan. Tapi, aku heran. Setiap aku
melihatnya di sekolah, aku merasa malu. Entah kenapa, perasaan ini mulai
berubah. Yang awalnya hanya teman bisaa, kini aku ingin mengetahuinya lebih
jauh lagi. Apakah aku menyukainya? Atau mencintainya? Sahabat jadi cinta? Ah
tidak mungkin. Aku kan sahabatnya. Aku tidak mau persahabatan kami rusak hanya
karena cinta. Sampai suatu saat, dia menyapaku di koridor kelas. “Hai Na!”.
Baru disapanya saja aku merasa gugup, ada apa denganku? Dan aku pun membalas
sapaannya, “Hei Vin.” Ya, ini memang bukan yang pertama kalinya dia menyapaku.
Tapi, aku merasakan hal yang berbeda. Aku curiga, sepertinya aku mempunyai rasa
kepadanya.
Hari
terus berganti. Aku tetap merasakan hal yang sama setiap aku bertemu dengan
Vino. Walaupun aku gugup, tapi aku berusaha untuk bersikap seperti biasanya.
Selalu itu yang bisa aku lakukan. Rasanya capek sekali kalau aku hanya bisa
memendam perasaan ini. Kepada sahabatku sendiri. Aku pun membagi cerita kepada sahabatku tentang perasaan ini. Mereka
pun terkejut setelah aku menceritakan semuanya. “Gila lo, Na! Kok bisa sih
mendam perasaan sebegitu lamanya? Dan.. lo jago banget bersikap bisaa aja di
depan dia. Padahal lo kan suka sama dia.”, ucap Reva. “Rev, gue juga bingung
kenapa gue bisa suka sama dia, sahabat gue sendiri pula. Gue harus apa?”
jawabku. “Menurut gue, lo harus tetap jaga persahabatan lo sama dia. Lo gak mau
kan persahabatan kalian hancur cuma gara-gara hal ini?” saran Tya. “Hm..oke.
Gue akan pertahanin persahabatan ini. Gue gak mau persahabatan ini hancur.”
jawabku lemas.
Aku
pun menjalani hariku seperti biasa. Mencari ilmu, mengikuti ekstrakurikuler,
dan aku juga aktif di organisasi sekolah. Sesekali aku menghabiskan waktu
bersama sahabat-sahabatku. Namun, ada suatu hal yang aneh. Vino yang biasanya
ikut dengan kami, kini dia lebih memilih teman-teman barunya. Sepertinya dia
punya geng baru. Ya, disana ada
beberapa cewek dan cowok yang memang aku mengenalinya. Mereka terlihat sangat
akrab. Jujur, aku iri pada mereka. Vino yang bersenang-senang dengan teman
barunya, sedangkan kami disini hanya melihatnya dengan tatapan kesal. “Udah
punya teman baru, teman lama dilupain gitu aja.” ucap Tya. “Udah biarin aja.
Mereka kan teman sekelas, mungkin dia ada tugas kelompok, mereka jadi dekat
deh.” jawabku membelanya. “Lo gak cemburu, Na? Kalau gue jadi lo sih gue bakal
benci banget sama dia.” ucap Reva kesal. Bel istirahat masuk pun berdering.
Belum sempat aku menjawab, kami pergi menuju ruang kelas. Ah, benar juga kata
mereka. Seharusnya aku kesal, benci, dan cemburu padanya. Tapi aku tidak bisa.
Siapa aku? Aku hanyalah salah satu dari teman dekatnya. Ya, hanya teman. Tidak
lebih.
Waktu
terus berjalan. Aku mulai merasakan perubahan. Dia kembali lagi seperti dulu.
Aku senang. Aku merasa dia lebih peduli, perhatian, mungkin, denganku. Tentu
aku sangat senang. Sampai temanku bilang, “Na, kayaknya dia udah tau deh kalau
lo suka sama dia.”. “Apa?? Serius lo?? Terus gue harus apa? Kalau dia ngejauh
dari gue, gimana? Kalau dia benci sama gue, gimana? Ah gue harus apa?”
pertanyaan itu terus keluar dari mulutku. “Iya lo sekarang tenang aja dulu. Gue
rasa dia bukan tipe cowok yang kayak lo sebutin tadi. Gue tahu dia kok, dia kan
teman lama gue.” Jawab Farel. “Tapi Rel, kalau kejadian gimana? Gue gak mau
persahabatan ini hancur cuma karena hal sepele.” ucapku sedih. “Percaya sama
gue, yang penting dia gak ngejauhin lo kan? Buktinya kalian makin deket aja.”
jawabnya mengejekku. “Oke.. kita lihat nanti. Mungkin sebentar lagi dia bakal
ngejauh kayak dulu.” jawabku pesimis. Ya, aku hanya bisa mengikuti takdirNya.
Aku harus tetap bisa menjaga persahabatanku dengannya.
Hampir
satu tahun aku menyukainya. Dan hampir satu tahun juga aku memendam perasaan
itu. Lelah? Iya. Lelah rasanya memendam perasaan dan tak pernah tersampaikan.
Apalagi terbalaskan. Namun yang aku tahu, cinta yang tulus tidak butuh balasan.
Aku tulus mencintainya. Dan aku, “Aku
tidak pernah keberatan menunggu siapa pun selama aku mencintainya.”. Aku
akan tetap menunggunya. Sekarang, yang aku tahu dia hanya menganggapku sebagai
sahabat. Aku berharap dia tidak mengetahui perasaanku ini. Walau pada akhirnya
dia akan mengetahui semuanya. Karena takdir, semua bisa terjadi.
Komentar
Posting Komentar