AKPRO.
Wah sekarang udah 2016???
Perasaan
baru aja kemarin 2015…
Dan sekarang
saya berada di bangku kelas 12. Itu artinya.. UN didepan mata. Kuliah didepan
mata!! Kalau ditanya “Mau kuliah dimana? Jurusan apa?” alhamdulillah sudah
menentukan pilihan..tinggal minta doa restunya aja dari orang-orang yang saya
cintai dan saya banggakan.
Ini berkat
acara yang saya ikuti pertama kali yaitu AKPRO (Akademi Program Studi) yang
diadain di Untirta Serang. Jadi di AKPRO ini kita milih 5 jurusan yang
diminati, jurusan ipa maupun ips. Yang saya pilih yaitu statistika, psikologi,
teknik sipil, teknologi pangan, dan teknik arsitektur. Sebenarnya untuk pilihan
ke 3-5 saya pilihnya asal karena bingung mau ambil apa lagi._.
Yang pertama, saya masuk ke kelas statistika. Kenapa
saya pilih statistika? Karena..jujur,
pelajaran yang saya rasa kayaknya bisa suka itu cuma bahasa
Inggris dan matematika. Dan kebetulan sekali, pemateri statistika ini langsung
dari mahasiswa IPB (Institut Pertanian Bogor). IPB loh IPB!! Statistika pula!! Jadi
di kelas statistika ini kita dikenalkan seperti apa kuliah di IPB, jurusan
statistika, tinggal di Bogor, dan yang paling saya ingat ketika (kita sebut
saja kakak X, laki-laki) Kak X menceritakan pengalamannya pada saat menjadi
mahasiswa baru dijurusan statistika IPB yang tinggal di asrama.
Waktu itu
Kak X baru saja keluar dari kamar asramanya. Saat sedang mengunci pintu kamar,
tiba-tiba senpai notice him like, “jurusan apa coy?” lalu Kak X menjawab, “FMIPA
Statistika, Kak.” Dan respon senpai seperti..”Wah..*sambil menggelengkan
kepala* *berdecak kagum* *dance i got a boy* “ si Kak X ini heran. Ada apa
dengan statistika IPB? Apa dia salah masuk jurusan? Atau dia baru saja
menyebutkan salah satu nama sumur yang ada di Bogor? GAK KOK. Fyi.. ternyata Departemen Statistika
Fakultas MIPA IPB merupakan jurusan yang lo-dewa-banget-kalo-masuk-sini.
Ngerti kan maksudnya?..dan Kak X juga termasuk golongan orang-orang yang IP-nya
4. Dari SMA sering ikut lomba, sering dapet juara, pokoknya anak
statistikable banget deh. Lalu setelah kelas statistika selesai, saya
melanjutkan perjalanan 1 hari menjadi mahasiswa menuju ke kelas psikologi.
Psikologi. Psychology. Welcome to Psychology! Gitu kata
kakak-kakaknya. Jujur, dari dulu suka banget sama yang namanya psikologi. Sampe
temen-temen (yang tidak mau disebutkan namanya) seenak jidat menyuruh
saya untuk kuliah psikologi. Thank you, my friends. Pemateri psikologi kali ini
laki-laki lagi. Alhamdulillah..beliau dari UI (Universitas Indonesia). Pertama
kali saya masuk kelasnya, saya liat (sebut saja Kak Y) tidak memakai almet
kuningnya. Dan saya merasa lega..(terakhir
kali liat kuning-kuning, saya agak pusing..). Pertama dia bahas apa itu psikologi. Kebetulan
psikologi di UI untuk jurusan ips teman. Saya sedikit kecewa. Lalu Kak Y
menjelaskan kalau kita kuliah jurusan
psikologi, khususnya di UI, di semester selanjutnya kita bisa pilih lagi konsentrasi
jurusannya. Ada psikologi klinis, psikologi pendidikan, psikologi industri,
psikologi perkembangan, psikologi sosial, dan masih banyak lagi.
Yang paling saya ingat
saat kelas psikologi, Kak Y menceritakan pengelamannya dulu menyangkut tugas
kuliahnya. Jadi, Kak Y melakukan riset mengenai seberapa lama orang disekitar
akan menolongmu. Ya, kurang lebih seperti itu judulnya. Kak Y yang pada saat
itu juga diam-diam meng-test kami dengan cara menjatuhkan spidolnya kearah
kami. Beberapa orang dari kami menatap aneh ke spidol dan juga Kak Y. tapi, ada
satu orang yang mengambil spidol tersebut dan memberikannya ke Kak Y. setelah
Kak Y mendapatkan spidolnya lagi, dia bilang kalau dia membutuhkan waktu 9
detik untuk mendapatkan spidolnya kembali. Disini kami masih bingung. Lalu dia
menjelaskan bahwa hal itu bisa dibilang wajar karena tanggung jawab kami untuk
menolong Kak Y terbagi ke 40an anak yang ada di dalam kelas. Kebanyakan dari kami berpikir “ambil gak ya..ambil gak
ya..”. karena kelamaan berpikir, maka kemungkinan untuk menolong Kak Y sedikit
karena bisa saja didahului orang lain. Begitu..
Pada saat materi, memang beda ya kalau anak psikologi..penyampaiannya lebih
adem, sih. Nyaman gitu, bawaannya ingin curhat mengenal psikologi lebih
dalam. Pokoknya diantara 2 kelas yang paling saya suka, itu kelas psikologi.
Kelas ke 3, yaitu
teknik sipil. Karena gedung A (gedung dimana kelas psikologi berada) dan gedung
B (gedung dimana kelas teknik berada) lumayan jauh, ditambah dengan banyaknya
orang yang berlalulalang untuk sampai ke kelas selanjutnya agar tidak terlambat
dan bisa mendapatkan kursi, akhirnya saya tiba di kelas teknik sipil TERLAMBAT.
Malu? Banget! Karena yang terlambat Cuma saya.. udah gitu
teknik sipil mayoritas anak laki-laki semua. Dengan segenap nyali yang besar,
saya mengetuk pintu kelas dan mengucapkan salam seraya berdoa, “semoga gak ada
yang kenal gue..” dan saya disambut dengan hangat oleh kakak Z. Kakak ini
perempuan, dan mahasiswi UNTIRTA (Universitas Sultan Ageng Tirtayasa). Lalu saya
langsung menuju ke posisi paling belakang sambil mencari tempat duduk. Tapi ternyata….gak
ada. Dan sayapun mengeluarkan nyali ke 2 saya dan melakukan interupsi ke Kak Z,
“Kak, ada kursi lagi gak?..” lalu sang kakak menanyakan ke temannya yang
(mungkin) panitia lapangan dan peralatan. Setelah 1 menit berlalu, kakak laper
ini kembali dan memberitahu hal yang paling menyedihkan saat itu juga. “Maaf ya
dik, kursinya gak ada lagi..kalau duduknya lesehan gapapa kan?” dalam hati “lah
dari tadi mending saya gak usah kesini kak..pakeacara telat segala lagi..”
karena saya sudah terbiasa fake smile, saya
menjawab “oh iya gapapa kak..lantainya adem kok hehe..” lalu ketika saya
ingin duduk lesehan, tiba-tiba ada seorang laki-laki dari pojok-belakang sana
bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri saya “lo duduk disitu aja”. Saya kira
ini ftv, ternyata ini beneran. Dan saya langsung menuju ke kursi tersebut tak
lupa mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Allah SWT,
teman-teman cowok foxence yang kebetulan teknik sipil juga tapi gak mau
menyerahkan kursinya untuk saya dan bisanya cuma ngeledek cie-cie, dan kepada
orang yang telah memberikan saya kursi tersebut (ternyata saya pernah bertemu
sebelumnya) . lalu saya duduk dengan tenang dan dia duduk lesehan, dan
teman-teman dia yang lain ikut-ikutan. Tsk.
Selama materi jujur saya ngantuk..udah lelah.. maafkan saya, Kak. Materi pun
kurang masuk karena mayortas isinya laki-laki yang kalau udah bersatu suaranya
kenceng banget kayak paduan suara yang pesertanya 1000 orang.
Sebelum ke kelas 4, yaitu teknologi pangan, kami diberi waktu untuk isoma. Disana
cari makan susah, karena banyak participan yang kelaparan juga.. akhirnya saya
dan teman-teman saya mencari minimarket dan hanya membeli roti. Alih-alih yang
penting perut keisi. Dari situ, muncul ide-ide brandalnya. Kami memutuskan
untuk mabal tidak mengikuti kelas selanjutnya dan pergi mencari sesuap
nasi di MOS. Tapi kami tidak tega, karena tidak terbiasa melakukan
perbuatan keji ini. Akirnya kami memutuskan untuk mabal di kelas terakhir:”)
Karena saya tidak begitu tertarik teknologi pangan, teman saya, sebut saja
N, dia mengambil kelas ke 4 DKV. Akhirnya kami bertukar kelas, saya ke kelas
DKV dan N ke kelas tekpang. Konyol, memang. Tapi apa daya,minat kami tertukar.
Saat memasuki kelas DKV, pemateri langsung dari alumni mahasiswi DKV, ITB
(Institut Teknologi Bandung). Disini kami diajarkan apa itu DKV, bagaimana
proses pembelajarannya, sampai dengan prospek kerjanya. Ya
begitu deh.. gambar Kak A bagus banget. Saya juga nge-like foto instagram Kak A, lho. Pokoknya udah pro deh, alumni ITB~
Kelas terakhir, yang
seharusnya saya masuk ke kelas teknik arsitektur, kami benar-benar memutuskan
untuk mabal. HA HA HA HA………
(Ps: Tolong jangan
ditiru)
안녕하세요~~
Le, ini soal matematika atau gimana?
BalasHapusbukan uy, ini soal ujian kehidupan..
BalasHapus